oleh

Pengembangan Potensi Hutan Mangrove oleh Pemda Tanjabbarat

Suaratanjab.com-kuala Tungkal

Kabupaten Tanjab Barat dengan luas wilayah daratan kira2 5.503,5 Km2 sebagian besar merupakan kawasan hutan.

Sekilas memang Mangrove itu tidak menarik untuk dipandang selain berlumpur dan berawa-rawa namun apa yang terjadi jika dikelola dengan baik sebagai Ekologi wisata selain menjadi Laboratorium Alam Terbesar tentunya akan tetap menjaga ekosistem habitat satwa liar seperti burung, hewan-hewan reptil dan tentunya ikan dan udang

Jenis tumbuhan yang menyusun hutan mangrove di pangkal babu, yaitu :api-api (Avicennia sp.),Bakau (Rhizophora sp.), Pidada (Sonneratia sp.), Tancang (Bruguiera sp.), Mentigi (Ceriops sp.), Teruntum (Lumnitzera sp.), Buta-buta (Excoecaria sp.), Nyirih (Xylocarpus sp.), Perpat kecil (Aegiceros sp.), Perpat (Scyphyphora sp.) dan Nipah (Nypa sp.) dan lain-lain.

Objek wisata ini merupakan pantai pasir putih yang begitu indah, dengan panorama yang eksotis karena berhadapan langsung dengan Laut cina Selatan. Jarak tempuh dari pusat kota ke pangkal babu lebih kurang 40 menit dengan menggunakan perahu motor.

Tahun 2019 ini Pemkab Tanjab Barat, sesuai dengan Perda Kepariwisataan serta Rencana Induk Kepariwisataan Daerah , dikoordinasikan oleh Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) bersama instansi terkait antara lain Dinas Parpora, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas PUPR telah memulai utk pengembangan wisata hutan mangrove dengan total anggaran yang cukup signifikan yakni sekitar Rp 11,5 miliar.

Hutan Mangrove non konservasi di Provinsi Jambi hanya ada di perairan Tanjab Barat dan Tanjab Timur,Pemda Tanjab Barat berkomitmen penuh dalam pengembangan dan menjada potensi wisata hutan mangrove.

Anggaran yang disiapkan dari APBN melalui dana DAK untuk pariwisata sebesar Rp 1,4 M dari Kementerian Kelautan dan Perikanan sebesar Rp 500 Juta, dan yang terbesar dari APBD Tanjabbar sebesar hampir Rp 10 Miliar. Kadis Pariwisata Tanjab Barat, Otto Riadi menyampaikan bahwa bantuan DAK 2019 yg diperoleh merupakan “initial support” dan diperoleh komitmen Kementrian bahwa bila berhasil dilaksanakan, pada tahun 2020 pastinya dukungan jauh lebih besar lagi.

“Harapan Pemkab Tanjung Jabung Barat yang disanpaikan oleh kepala Dinas Pariwisata, pemuda dan olahraga (Disparpora) Tanjung jabung Barat Otto Riadi, SE yang mewakili Bupati”dengan pengembangan potensi wisata mangrove ini selain akan menjadi Destinasi Utama kepariwisataan konservasi dan menjaga lingkungan juga memperindah kota serta punya daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik dan bahkan dari manca negara. Diharapkan langkah inovasi yang diupayakan ini akan mendorong berkembangnya perekonomian daerah buak hanya dari aspek kunjungan wisata dan Festival2 yang memungkinkan utk diselenggarakan akan tetapi lebih jauh lagi akan mengembalikan kejayaan Kuala Tungkal sebagai tujuan “laisure” dan kuliner hasil laut di Provinsi Jambi”

“Bupati Tanjab Barat, dalam berbagai kesempatan selalu menekankan agar komitmen pengelolaan kawasan mangrove di pantai timur sumatera ini di fokuskan pada pengembangan ekowisata yang nantinya diharapkan akan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat terutama para nelayan yang tinggal di sekitar kawasan mangrove tersebut”.

“Pengembangkan hutan mangrove difokuskan di Desa Pangkal Babu dengan areal hutan mangrove seluas 200 hektare yang kedepannya akan menjadi ikon wisata baru dan sebagai Ekologi Wisata”,demikian beliau mengakhiri wawancaranya dengan suaratanjab. Com.(rin)

Komentar

News Feed